Sosok Dibalik Kesuksesan Pencak Silat Raih 14 Emas di Asian Games 2018

0
Sumber: Tempo.co

Tim Indonesia khususnya di cabang olahraga pencak silat pernah meraih kejayaan prestisius pada tahun 2018 lalu, tepatnya di ajang Asian Games Jakarta-Palembang lalu.

Saat ini Timnas pencak silat, sukses memborong 14 medali emas dan satu perunggu. Luar biasanya lagi 15 medali tersebut didapat dari 16 nomor yang dilombakan. Artinya, hanya ada dua  nomor lomba yang tidak sukses dimenangi Tim Indonesia.

Tentu saja kesuksesan tersebut memang patut kita apresiasikan kepada para atlet yang sudah berjuang dengan keringat, darah dan air mata di atas arena. Namun yang terkadang kita lupakan, ada sosok yang selalu mendukung keberhasilan para atlet, yaitu sang pelatih.

Sosok di balik layar ini memang sangat jarang mendapatkan publikasi dan sorotan. Namun tidak bisa dipungkiri, mereka -mereka ini juga pahlawan.

Kesuksesan Timnas Pencak Silat Indonesia di Asian Games 2018, juga tidak lepas dari peran besar seorang Rony Syaifullah. Ia adalah pelatih kepala Tim Indonesia untuk cabor pencak silat. Sosok dibalik moncernya performa Hanifan Yudani Kusumah dkk.

Rony memang bukan pelatih sembarangan. Sebelum berjaya bersama timnya di Asian Games 2018, dia pernah membawa tim pencak silat Indonesia menjadi juara umum di Kejuaraan Dunia 2010 dan juga juara umum pada SEA Games 2011.

Apa yang berhasil ditorehkan pria asli Boyolali Jawa Tengah ini jelas bukan kebetulan. Karena memang sebelum menjadi pelatih, Rony juga salah satu pesilat terbaik yang pernah dimiliki Merah Putih.

Sepanjang karirnya sebagai atlet, Rony sudah berhasil menyabet gelar juara dunia pada 1997 dan 2000. Selain juga meraih medali emas di SEA Games 1997, 2005 dan 2007.

Sekarang, pelatih kelahiran 1976 tersebut sudah memiliki jalan hidup baru. Selepas keluar dari Timnas Asian Games 2018,Rony memutuskan untuk kembali pulang ke ‘rumah’ yang telah lama ditinggalkan, yaitu Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Ya, semenjak 2002, sebenarnya Rony sudah tercatat sebagai dosen di Fakultas Keolahragaan UNS. Dan pasca sukses di Asian Games 2018, Rony memutuskan untuk kembali mengabdi di kampus.

“Semenjak saya jadi atlet pada 1996 sampai 2008, dilanjutkan pelatih 2009-2018, selama itu saya belum mengabdikan diri secara formal secara betul-betul menjadi dosen. Asian Games kemarin, saya bertekad jika berhasil akan kembali ke bidang akademik,” kata Rony seperti dilansir dari VIVA.

Sekarang, Rony menjabat sebagai Wakil Dekan 1 Fakultas Keolahragaan UNS. Namun dalam pandangannya jabatan tersebut tidak jauh berbeda dengan profesi sebagai seorang pelatih silat.

“Bedanya cuma aplikasinya saja. Ketika saya di lapangan, basic dari teori yang saya terapkan dari sport science. Nah sekarang penerapannya melalui kelas, eksperimen, pelatihan yang dikemas dari segi pendidikan. Secara teknis sama, saya mentransfer sebuah pengetahuan yang saya miliki,” ucapnya.

Kini, menurut Rony tantangan Indonesia adalah berusaha agar pencak silat menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade. Dia pun berharap PB IPSI dapat memanfaatkan sebaik mungkin dukungan dari pemerintah dalam hal ini Kementerian pemuda dan olahraga (Kemenpora).

T

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here