Potret Sabarnya Mantan Pebalap Sepeda Nasional Dampingi Atlet Disabilitas

0
Sumber Gambar: Detik.com

Meski tak berhasil menyumbangkan medali emas di ajang Asian Para Games 2018, tapi perjuangan para atlet Para-balap sepeda atau Paracycling Indonesia layak diancungi jempol karena masih mampu menorehkan medali perak dan perunggu dari semua kelas yang dilombakan di Sirkuit Sentul Internasional beberapa waktu lalu.

Total tiga medali perak didapatkan dan enam medali perunggu disumbangkan dari Paracycling Indonesiadi ajang Asian Para Games 2018.

Dan dibalik rentetan prestasi tersebut, jelas tak lepas dari sentuhan tangan dingin mantan pebalap sepeda terbaik nasional, Puspita Mustika Adya. Yup, sejak tahun 2015 lalu, Puspita telah memutuskan menjadi pelatih paracycling.  Hingga akhirnya pada tahun 2017 tim Paracycling Indonesia terbentuk, prestasi prestasi pun sudah mulai mencolok hingga Asian Para Games 2018 kemarin dibawah kepemimpinannya.

“Jadi kami dari paracycling Indonesia sendiri baru lahir, tahun 2017 di ASEAN Para Games 2017. Jadi, ini adalah tahun kedua. Atlet pertama para-cycling itu adalah M. Fadli,” katanya, Dilansir dari Detik.com

Puspita pun menceritakan sedikit perjalannya sebagai pelatih paracycling. Awalnya, meski memiliki pengalaman sebagai pebalap dan melatih (salah satunya timnas balap sepeda Brunei Darussalam), Puspita membutuhkan adaptasi saat menangani pebalap disabilitas.

Dia dituntut untuk pandai-pandai melakukan pendekatan secara psikologis saat menularkan taktik dan strategi.

“Kalau atlet normal kami sampaikan program, mereka dibiarkan sendiri bisa. Tapi kalau atlet seperti mereka kami tidak boleh keras, perasaan mereka lebih lembut. Jadi apa yang saya sampaikan harus benar-benar dari hati,” ungkapnya.

Untuk itu, Puspita mengambil banyak cara untuk membuat situasi di pelatnas akrab. Tidak ada jarak. Hal paling sederhana lewat sapaan. Tak ada panggilan coach layaknya atlet kepada pelatihnya.

“Saya tidak mau dipanggil coach, om atau apa. Saya minta dipanggil pakde saja. Saya ingin mereka menganggap saya bapak mereka, pak de, biar tidak ada jarak di antara kita,” kata Puspita.

Tak hanya sendirian, Puspita pun turut melibatkan istrinya Riries Widya menjadi bagian dalam mendekatkan diri dengan atlet paracycling Indonesia.

“Jadi saya ini sudah seperti ibu bagi mereka. Saya ingin mereka menganggap kami sebagai orang tua, yang ngemong mereka. Melengkapi kekurangan mereka karena mereka jauh dari orang tua mereka,” kata Riries.

“Kalau ada apa-apa mereka suka curhat sama saya. Misalnya soal urusan asmara atau yang lain. Saya juga selalu mengingatkan mereka soal makanan,” tambahnya.

Sementara itu Puspita menjelaskan beberapa kualiffikasi pengendara paracycling yang terdiri dari empat kelompok yakni gangguan penglihatan, celebral oalsy, gangguan mobilitas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here