Nilai Plus Olahraga Indonesia Dalam 4 Tahun Terakhir

0
Sumber Gambar: CNN Indonesia

Indonesia kini mejadi salah satu negara yang prestasi olahraganya kian diperhitungkan di mata dunia. Hal tersebut tak lepas dari pencapaian apik di ajang Asian Games dan Asian Para Games 2018.

Sebagai mana diketahui, Indonesia menduduki peringkat empat Asian Games dengan koleksi31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu. Torehan tersebut melampaui Presiden RI Joko Widodo untuk bisa masuk 10 besar.

Sedangakan di Asian Para Games 2018, kontingen Indonesia mengumpulkan 37 medali emas, 47 medali perak, dan 51 medali perunggu dan finis di peringkat kelima dan juga melebihi target yang dibebankan pemerintah.

Meski begitu, masih ada yang perlu menjadi perhatian khusus dari pemerintah Indonesia yakni perencanaan olahraga jangka panjang Indonesia yang selama ini belum di miliki Indonesia. Hal tersebut diungkapkan oleh Pengamat olahraga nasional, Tommy Apriantono saat membeberkan plus-minus di dunia olahraga Indonesia sepanjang empat tahun terakhir.

“Plusnya prestasi Asian Games dan Asian Para Games sebagai penyelenggara maupun dari segi prestasi sangat bagus. Minusnya Menpora dianggap belum punya cetak biru perencanaan olahraga jangka panjang Indonesia seperti apa,” kata Tommy, dilansir dari CNNIndonesia.com.

Dari sisi plus lainnya, Tommy mengatakan pemerintahan Jokowi juga patut diapresiasi karena bisa memberikan kesetaraan bonus bagi para atlet peraih medali di Asian Games dan Asian Para Games. Hal itu disebut Tommy tidak pernah dilakukan presiden sebelumnya.

“Saya melihat sudah bagus. Menjanjikan. Selama ini presiden sebelumnya tidak pernah memperhatikan bonus untuk para atlet disabilitas dan diberikan tepat waktu,” ungkap Tommy.

Tapi minusnya, Indonesia diprediksi akan mengalami kemrositan pretasi di ajang Asian Games yang akan datang. Selain itu pemerintah juga dianggap belum serius membangun infrastruktur olahraga yang menyeluruh ke daerah. Meskipun bukan urusan Presiden langsung, Tommy mengatakan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah bisa fokus terhadap pembangunan infrastrukur dan sistem di keolahragaan Indonesia.

“Kalau dianalisa kita kemungkinan bisa melorot jauh di Asian Games selanjutnya bukan karena prestasi kita yang jelek, tapi cabang olahraganya yang tidak bakal ada di Asian Games nanti. Artinya bakal ada fluktuasi prestasi. Sebab itu diharapkan nantinya Kemenpora dan pengurus cabor punya cetak biru, jadi programnya jelas,” ucap Tommy.
“Satlak Peima kemarin dibubarkan, tapi tidak dievaluasi, tidak dijelaskan alasan kenapa dibubarkan. Sebab kalau disebut masalahnya anggaran, sampai sekarang juga masih bermasalah,” terangnya.

Masalah lain yang dianggap penting oleh Tommy adalah pemerintah juga belum menganggap penting olahraga. Itu terlihat dari jumlah anggaran yang dikucurkan untuk bidang olahraga. Sekalipun dana yang dikeluarkan untuk olahraga terlihat besar di dua tahun terakhir, hal itu lantaran Indonesia jadi tuan rumah Asian Games dan Asian Para Games.

Hambalang yang disebut sebagai kunci prestasi olahraga Indonesia pun masih tidak jelas akhirnya. Sementara menjadikan kawasan Gelora Bung Karno (GBK) Senayan sebagai pusat pelatihan nasional bukan jalan keluar.

Menurut Tommy, GBK tidak dilengkapi dengan dukungan sport science untuk mengetahui perkembangan kemampuan para atlet. Selain itu juga diperlukan cara untuk mengidentifikasi bakat-bakat atlet di daerah.

“Mudah-mudahan ke depan kita bisa lebih baik. Terutama untuk persiapan ke Olimpiade 2020 yang jadi bukti akhir Pak Jokowi dan Menpora. Bagaimana bisa meloloskan sebanyak-banyaknya atlet Indonesia ke Olimpiade melalui klasifikasi bukan wildcard,” ucap Tommy.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here