Merekam Jejak Karir Legenda Tenis Tim Indonesia, Yayuk Basuki

0
Sumber: AFP/PASCAL PAVANI/Kumparan

Yayuk Basuki merupakan seorang legenda tenis putri di Indonesia. Berbagai pencapaian internasional sudah dicapai oleh perempuan kelahiran 30 November 1972 tersebut. Menariknya, sebelum akhirnya dikenal sebagai Ratu Tenis Indonesia, Yayuk justru sempat intens berlatih sebagai atlet atletik.

Ya, diakui oleh Yayuk, bahwa tenis sejatinya bukan olahraga pertama yang ia geluti sebagai seorang olahragawan. Justru dia pernah menjadi bagian dari Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI). Namun sejak usia 12 tahun, Yayuk akhirnya mantap lebih memilih tenis, dan meninggalkan atletik yang sempat ia geluti.

Meskipun begitu, Yayuk justru berterima kasih pernah bergabung dengan atletik, yang memberikan banyak dasar olahraga, yang sangat diperlukan dalam dunia tenis.

“Jadi cabang olahraga atletik cukup bagus karena mother of sports, basic untuk olahraga apapun adalah cabang olahraga atletik ini yang paling bagus,” kata Yayuk, seperti dilansir dari Tempo.co.

Pilihan Yayuk kepada tenis, dijelaskannya tidak lepas dari peran sang ayah Budi Basuki, yang banyak memberikan masukan dan motivasi tentang olahraga asal Britania Raya tersebut. Fokus dengan tenis, Yayuk pun semakin mendapatkan kesempatan bagus di olahraga, setelah akhirnya diterima masuk di Sekolah Olahraga Ragunan pada 1986.

“Sekolah Ragunan itu menghasilkan atlet yang bisa dikatakan prestasi dunia,” kata dia.

Selama menjadi bagian dari Sekolah Olahraga Ragunan, Yayuk punya peluang yang lebih banyak untuk bisa saling menimba pengalaman dengan rekan – rekan calon atlet, yang ternyata ke depan juga sukses membuat harum nama bangsa. Seperti, Susy Susanti, Ardi B Wiranata, dan Ricky Subagja.

. “Kami semuanya ditempa di sana, akhirnya bisa membuahkan hasil yang sangat bagus buat Bangsa Indonesia,” kata Yayuk.

Selama menjadi bagian dari dunia tenis di Indonesia, Yayuk sudah berhasil meraih empat medali emas bagi Tim Indonesia di ajang  Asian Games. Berpasangan dengan Suzanna, ia juga sukses mempersembahkan dua medali emas pada nomor ganda putri pada Asian Games 1986 dan 1990. Bahkan di tahun 1990, Yayuk juga berhasil meraih medali emas di Asian Games Beijing dari nomor ganda campuran, berpasangan dengan Suharyadi yang akhirnya menjadi suaminya.

“Emas terakhir saya persembahkan tahun 1998 pada Asian Games di Bangkok melalui tunggal putri,” kata dia.

Yayuk Basuki memang bisa dibilang memiliki karier yang mentereng di tenis lapangan, khususnya setelah dia memutuskan ke jalur profesional. Pada 1990, dia bergabung dengan klub Pelita Jaya, sebagai tim profesional pertamanya. Bersama Pelita Jaya, Yayuk mendapatkan kontrak selama lima tahun.

“Setelah itu akhirnya mengembara sendiri dengan pelatih, itu dimana perjalanan kalau kita secara mental tidak kuat di situ ujiannya. Kita di negeri orang selalu dicibir, dianggap sebelah mata,” ucap dia.

Pada era tersebut, menurut Yayuk bukanlah hal yang mudah untuk meniti karir sebagai petenis profesional. Hal tersebut tidak lepas dari tenis, yang masih bukan merupakan olahraga populer di Tanah Air.

Diakui Yayuk, pada masa tersebut, ia pun banyak mendapatkan tantangan dan khususnya tekanan secara psikologis.

“Alhamdulillah saya bisa membuktikan banyak juga dari pertandingan, dimana harus membuktikan bahwa saya mampu bersaing berada di papan atas,” kata dia.

Yayuk menjelaskan, bahwa sepanjang karir profesionalnya, dia sudah pernah mengalahkan enam petenis yang masuk dalam jajaran 10 dunia di masa tersebut. Peringkat tertinggi yang pernah diraih, adalah berada di urutan 19 dunia.

“Dari empat Grand Slam paling bagus di Wimbledon, masuk 8 besar. Selain itu tur dunia saya pegang enam gelar dan beberapa event besar lain,” ujar Yayuk.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here