Mengenang Sejarah Medali Pertama Olimpiade Tim Indonesia 

0
Sumber Foto: detikSport/Rengga Sancaya

Olimpiade Seoul 1988 menjadi salah satu tonggak sejarah bagi perjalanan sejarah Tim Indonesia di pesta olahraga terbesar di dunia Olimpiade. Saat itulah untuk pertama kali Kontingen Merah Putih, sukses untuk kali pertama naik podium, meraih medali perak, persembahan dari cabang olahraga panahan dalam nomor beregu putri.

Adalah trio Nurfitriyani Saiman, Lilies Handayani dan Kusuma Wardhani yang menjadi pahlawan dengan kali pertama bisa meraih medali untuk Indonesia di ajang Olimpiade, setelah keikutsertaan Tanah Air sejak 1952.

Dalam perjalanan menuju podium ketika pemanah putri Indonesia tersebut, berhasil mengalahkan tim panahan Amerika Serikat, serta turun melahirkan legenda ‘sembilan anak panah’.

Saat itu, Lapangan Hwarang yang berada di dalam kompleks militer Korea Selatan yang berada di Seoul, menjadi saksi bisu, bagaimana tim yang dibesut oleh pelatih Donald Pandiangan berhasil kali pertama membawa pulang medali untuk Rakyat Indonesia dengan hasil perak.

Awalnya, tim panahan beregu putri Indonesia dan Amerika Serikat (AS) harus bertanding ulang (rematch) karena sama  – sama mengantongi skor 952. Lilies, Nurfitriyana, dan Kusuma kembali harus berduel dengan pemanah asal Negeri Paman Sam di nomor terakhir 70 meter.

Indonesia sebenarnya sempat mengungguli tuan rumah Korea Selatan  (258) dan AS (253) dengan skor 259 pada nomor 30 meter. Namun di nomor 50 meter, Indonesia hanya bisa mengumpulkan 237 poin, yang sama dengan AS dan tertinggal hanya tiga angka dari Korea Selatan.

Pada putaran ketiga di nomor 60 meter, Indonesia kembali mengalami penurunan peringkat hingga ke rangking tiga, dengan poin 235. Satu peringkat di bawah Uni Soviet yang bisa mendulang poin hingga 241.

Puncaknya terjadi pada nomor 70 meter. Di partai terakhir ini, Korsel semakin kokoh di puncak dengan 243 poin. Sementara Tim Indonesia justru masih tertahan di peringkat ke tujuh dengan 221 poin, sebelum akhirnya rematch dengan AS.

Pada pertandingan ulang dengan AS, sembilan anak panah yang meluncur dari busur Trio Srikandi Indonesia, selalu tepat menancap di papan target, hingga akhirnya berhasil mengumpulkan 72 poin. Hasil ini pun sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan AS yang hanya mampu mendulang 67 poin, setelah satu anak panahnya meluncur keluar sasaran.

Pencapaian ini bisa dibilang sangat mengejutkan, jika melihat bagaimana tidak beruntungnya Indonesia di nomor perorangan putri. Lilies dan Kusuma harus kalah di perempat final. Sementara Nurfitriyana hanya bisa sampai semifinal.

Medali perak tersebut pun akhirnya jadi medali pertama Indonesia, setelah 36 tahun turut berlaga dalam Olimpiade. Hal ini sekaligus membangkitkan motivasi banyak atlet lain ke depannya, dalam meraih prestasi tertinggi di berbagai ajang internasional.

Terbukti, empat tahun berselang di ajang yang sama pada Olimpiade 1992 Barcelona, Susy Susanti berhasil menyabet medali emas. Kala itu, Susy menundukkan pebulutangkis Korea Selatan Bang Soo-hyun dengan skor 5-11, 11-5 dan 11-3.

Pada event yang sama, torehan emas Susy juga berhasil diikuti oleh pebulutangkis Tim Indonesia lainnya. Dari sektor tunggal putra, Alan Budikusuma, sukses menekuk rekan senegaranya Ardy B Wiranata dengan skor 15-12, 18-13. Sejak itulah, Indonesia selalu punya tradisi meraih medali hingga di Olimpiade terakhir 2016, Rio.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here