Mengenang Prestasi Lius Pongoh, “Si Bola Karet” Jagoan Bulutangkis Indonesia

0
Sumber Gambar: indosport.com

Dikenal sebagai atlet bulutangkis Indonesia ulung berjuluk “Si Bola Karet” karena punya postur tubuh yang pendek dan gemuk untuk standar atlet bulutangkis. Dia adalah Lius Pongoh yang pernah berkali – kali mengharumkan nama bangsa di kancah internasional melalui bulutangkis.

Lahir di Jakarta, 3 Desember 1960, Lius Pongoh merupakan atlet bulutangkis Indonesia nomor tunggal putra berkelas dunia pada era 80-an. Kala itu, Indonesia memang rajanya di nomor tunggal putra, dengan begitu banyak atlet bulutangkis yang mendunia, seperti Liem Swie King, Icuk Sugiarto, serta juga sang legenda Rudy Hartono yang juga di masa tersebut masih sempat bermain.

Seperti dilansir dari Akurat.co, Lius merupakan anggota dari Tim Bulutangkis Indonesia yang berhasil membawa pulang Piala Thomas pada 1979. Capaian tertinggi Lius sebagai atlet bulutangkis Indonesia di nomor tunggal putra, adalah ketika meraih juara pada Indonesia Open 1984, dengan di final menundukkan perlawanan Hastomo Arbi.

Berlaga di Jakarta ketika itu, Lius tidak pernah menduga bisa menjadi yang terbaik, karena lawan-lawan yang dihadapi selama turnamen adalah para pebulutangkis terbaik dunia ketika itu, seperti Liem Swie King dan pemain legendaris dari Denmark Morten Frost Hansen.

“Tahun 84 itu kan pertandingannya cukup ketat, dan saya juga enggak mungkin sebenarnya bisa menang. Karena ada Misbun (Sidek), saya juga enggak pernah menang lawan Misbun waktu itu, Richard (Mainaky) juga (yang) bisa ngalahin (Misbun),” kenang Lius.

Namun, ada kisah berbeda di balik kejayaan Lius pada 1984 tersebut. Dimana atlet bulutangkis Indonesia ini, ternyata harus bolak  – balik ke rumah sakit, karena dia juga harus menjaga ibunya yang tengah opname karena sakit kanker pankreas. Atlet bulutangkis yang juga sering berduet dengan Christian Hadinata pada nomor ganda tersebut, mengaku berkali – kali harus melompati pagar rumah sakit, karena jam besuk yang sudah terlewat.

“Mama saya juga cukup memberikan saya semangat meskipun dia sakit untuk saya bisa juara di Indonesia Open tahun 84, dengan susah payah sih sebetulnya. Tapi ya itulah, mungkin saya lebih percaya kuasa Tuhan dan doa orang tua yang membuat saya bisa jadi juara Indonesia Open 1984,” kata Lius.

“Buat saya sendiri itu karir yang enggak mungkin lupa.” lanjutnya.

Disamping menjadi yang terbaik di Indonesia Open 1984, dalam bingkai prestasi internasional, Lius tercatat juga pernah menjuarai Swedia Open 1981, menjungkalkan Frost Hansen di partai puncak, Victor Cup 1984, dan Chinese Open 1981. Sementara di nomor ganda, bersama Christian Hadinata, Lius juga pernah juara di Jepang Open 1981, Swedia Open 1982 serta US Open 1988.

Setelah gantung raket sebagai atlet bulutangkis Indonesia. Lius memang tidak bisa jauh – jauh dari dunia si tepok bulu ini. Seperti sekarang ia tengah bekerja sebagai admin dan koordinator pendukung pada salah satu klub bulutangkis terbesar di Indonesia, PB Djarum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here