Mengenang Lukman Niode dan Catatan Prestasi Renangnya Yang Membanggakan Tim Indonesia

0
Lukman Niode, 1985. Sumber Gambar: KOMPAS/KARTONO RIYADI

Tim Indonesia berkabung, setelah salah satu perenang nasional yang pernah membela Merah Putih di Olimpiade 1984, Lukman Niode berpulang pada Jumat (17/04) dalam usia 58 tahun.

Kepergian Lukman menjadi sebuah kehilangan bagi dunia renang Tanah Air. Prestasi Lukman untuk renang Indonesia memang sangat besar, baik sejak masih aktif sebagai atlet, ataupun setelah pensiun. Ia adalah sosok yang selalu mau bekerja keras demi nama harum bangsa melalui renang.

“Dunia renang Indonesia sangat kehilangan atas meninggalnya beliau. Setelah pensiun sebagai atlet, beliau kemudian aktif berkiprah di berbagai organisasi olahraga,” kata perenang legendaris Indonesia yang pernah dilatih oleh Lukman Niode, Richard Sam Bera, seperti dilansir dari Liputan6.com.

“Olahraga Indonesia kehilangan sosok pemikir yang selalu berpikir ke depan (visioner) dan modern. Semoga ada yang bisa melanjutkan perjuangan beliau,” kata Richard, yang sangat kehilangan atas kepergian mentor serta sahabatnya tersebut.

Salah satu jejak prestasi Lukman yang paling diingat bangsa Indonesia, adalah bagaimana dia pernah berpartisipasi di gelaran Olimpiade 1984 Los Angeles, Amerika Serikat. Selain itu Lukman  juga berhasil membawa banyak prestasi bagi Indonesia melalui renang.

Bagi seorang Lukman Niode, renang memang sudah menjadi bagian hidup yang tidak bisa terpisahkan lagi. Ia sudah menggeluti cabang olahraga akuatik tersebut sejak masih anak – anak. Bahkan, Lukman memang lahir dari keluarga yang sudah sangat akrab dengan olahraga prestasi. Sang ayah, M Niode yang asli Gorontalo, Sulawesi Utara adalah pelatih renang. Sementara saudara kandungnya, Idroes Buhanuddin, Dunia dan Noerdiana juga dikenal sebagai aktif dalam dunia renang.

Sosok kelahiran 1963, yang menoleh jika disapa Lucky tersebut mengawali kariernya sebagai perenang pada klub Tirta Kencana Jakarta. Saat itu Lukman masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Ia memilih gaya punggung sebagai spesialisasinya di renang.

Pelan namun pasti, seorang Lukman Niode mampu mencuri perhatian renang nasional. Dia pertama kali mengikuti turnamen kelompok umur di bawah 10 tahun pada Kejurnas Antarklub Medan pada 1972. Hanya berselang setahun setelahnya, seorang Lukman sudah mampu menorehkan debut internasionalnya, dengan bertanding di Bangkok Thailand, meskipun saat itu belum mampu meraih gelar.

Pada 1977, Lukman Niode nyatanya sudah mampu meraih sembilan medali emas pada kejurnas 1976. Pesta medali emas Lukman tidak berhenti di situ, Pada PON 1977 dia sukses meraih 10 medali emas, dan disambung torehan tujuh emas pada PON 1980.

Deretan prestasi nasional tersebut, akhirnya menghantarkan Lukman memperoleh kesempatan untuk menimba ilmu di Amerika Serikat pada 1981. Ia berkesempatan bersekolah di Cypress High School Los Angeles, dan dilanjutkan ke West College di Los Angeles.

Beasiswa dari Pemerintah Indonesia tersebut berbuah manis. Lukman mampu membanggakan Tanah Air dengan meraih dua medali emas di ajang SEA Games 1983. Saat itu, dia juga berhasil memecahkan rekor 100 meter gaya punggung putra. Lukman mematahkan catatan waktu Asia milik perenang Jepang Kanji Ikeda. Dia berhasil unggul satu detik dibanding catatan Ikeda/

Setahun setelah SEA Games Lukman mendapat kesempatan berharga dengan menjadi bagian dari Tim Indonesia di Olimpiade 1984 Los Angeles. Lukman belum mampu banyak berprestasi, dengan langsung gugur di babak penyisihan.

Selain bersama Tim Indonesia di Olimpiade, Lukman juga pernah jadi pemegang dua rekor nasional untuk nomor 200 meter gaya punggung dan 100 meter gaya bebas.

Setelah tidak lagi aktif sebagai atlet renang. Lukman Niode tidak bisa jauh – jauh dari olahraga yang membesarkan namannya tersebut. Ia menjadi anggota dari Indonesia Olympian Athlete (IOA) dan pernah juga berperan sebagai panitia di Asia Para Games (INAPGOC) 2018, dengan jabatan Wakil Deputi II

Lukman juga tercatat menjabat sebagai Wakil IV Ketua Bidang Pembinaan Prestasi KONI Pusat.

“Beliau sosok atlet yang pintar dan cerdas. Menurut beliau seorang atlet tidak boleh hanya di olahraga saja, tapi harus menyelesaikan pendidikan, kemudian berkiprah di bidang lain. Itu yang selalu beliau kampanyekan ke perenang muda. Dia selalu menyuarakan itu, bahwa atlet harus punya intelegensia,” urai Richard Sam Bera, yang pernah merasakan tangan dingin Lukman Niode, menjelang SEA Games 2005.

Selamat jalan pahlawan olahraga Indonesia, Lukman Niode.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here