La Paene Masara, Penggemar Ellyas Pical, Yang Dedikasikan Hidupnya Untuk Tinju

0
Sumber Gambar: butonmagz.id

Kejayaan Ellyas Pical, memang banyak menjadikannya idola bagi bocah – bocah yang besar di era 80-90an. Salah satunya menginspirasi seorang La Paene Masara, bocah asal Buton Sulawesi Tenggara, yang bercita-cita menjadi petinju seperti kebanggaannya tersebut. Usaha keras dan tekad baja pun menghantarkan La Paene Masara menjadi salah satu legenda hidup tinju di Indonesia saat ini.

La Paene kecil mengenal dunia tinju, kala masih duduk di bangku kelas enam SD. Ellyas Pical jadi inspirasi nya untuk mantap memilih olahraga yang terhitung keras tersebut.

“Saya memilih tinju sebagai pilihan hidup setelah melihat Bang Elly (Ellyas Pical) begitu dielu-elukan warga saat pulang ke Ambon. Saya bertekad untuk menjadi seperti dia,” kata La Paene seperti dilansir dari Bola.

Ketika itu, di kampung La Paene tinggal tidak ada sasana dan prasarana tinju. Dia pun berlatih sendiri, Fisik dan tenaganya dia latih hanya dengan berlari, angkat beban, serta memukul samsak. Sedangkan teknik didapatkan, dengan menyimak secara seksama cara bertinju Ellyas Pical dari koran.

“Saya latihan di kebun, lalu diusir dan pindah ke pemakaman dekat pantai. Nah, di pantai itu ada gua yang ditinggali orang gila. Saya berlatih bareng dia sampai dianggap sudah jadi orang gila juga,” ujar La Paene.

Agar bisa mencapai mimpinya menjadi atlet tinju, La Paene bahkan memutuskan berhenti bersekolah, untuk bisa pergi ke Ambon dan bergabung dengan Sasana Tinju Bara Sakti.

“Di Ambon saya tinggal di pasar dan tidur di jembatan. Saya merasakan pahit dan kerasnya kehidupan di sana,” kata La Paene.

Karena dasarnya memang memiliki bakat. Baru berlatih sekitar tiga bulan, La Paene langsung mampu meraih juara di kejuaraan daerah se-Maluku. Dua kali menjadi juara, dia pun mendapat panggilan dari Persatuan Tinju Amatir Nasional (Pertina) Maluku.

Setelah bergabung dengan Pertina, karir tinju seorang La Paene terus melesat. Medali emas Kejurnas Senior di Manado 1994 menjadi pintu pembuka dari anak kelima dari enam bersaudara tersebut masuk ke pemusatan latihan nasional (Pelatnas) SEA Games 1995 Chiang Mai, Thailand.

Debut internasional La Paene tidak berjalan mulus. Ia langsung kalah di babak pertama SEA Games 1995. Namun kegagalan tersebut tidak membuatnya berkecil hati. 12 bulan berselang, La Paene langsung mampu bangkit dan menunjukkan kualitas internasionalnya. Dia sukses menjadi juara di kualifikasi Olimpiade 1996 di Filipina, dan secara otomatis meraih tiket ke pesta olahraga terbesar di dunia tersebut.

Pada perhelatan Olimpiade Atlanta 1996, La Paene sukses mengukir prestasi bagus. Dia menjadi petinju Tanah Air ketiga yang mampu menembus babak perempat final, setelah sebelumnya hal yang sama dilakukan Ferry Moniaga (Munich 1972) dan Albert Papilaya (Barcelona 1992).

.“Itulah momen terbaik dalam karier saya. Saat kembali ke kampung halaman, saya seperti selebritas. Banyak orang rela datang dari jauh hanya untuk bersalaman dengan saya,” kata pria kelahiran Buton 10 November 1973 tersebut.

Usai mencatatkan tinta emas dalam sejarah tinju Indonesia tersebut, nama La Paene terus membumbung tinggi di dunia tinju. Pada 1997 dan 1999 dia berhasil meraih dua medali emas SEA Games.

Pada Olimpiade Sydney 2000, La Paene kembali lolos ke babak utama, seusai menjuarai kualifikasi di Bangkok Thailand. Namun kali ini perjalanannya harus berakhir lebih dini, setelah kalah di babak kedua Olimpiade.

Dengan usia yang tidak lagi muda usai Olimpiade Sydney, La Paene akhirnya meninggalkan dunia tinju amatir dan beralih ke profesional pada 2001.

Namun karir pro nya tidak terlalu lama, La Paene hanya bertahan selama empat tahun di atas ring tinju profesional, hingga akhirnya benar – benar gantung sarung tinju pada 2005.

Sempat kesulitan mendapatkan pekerjaan pasca pensiun, beruntung La Paene saat itu mendapatkan perhatian dari Gubernur DKI Sutiyoso, dia pun mendapatkan pekerjaan di Pemda DKI karena prestasi mengkilapnya selama ini dunia tinju.

Tak lagi aktif sebagai atlet, bukan berarti La Paene lepas 100% dari dunia tinju.Panggilan hati, membuatnya terus mau berkecimpung di dunia tinju, baik sebagai pelatih maupun pengurus sasana. Bahkan saat ini dia duduk sebagai anggota komisi teknik dari Pertina Pusat. Dan tengah terus menggenjot para petinju Indonesia agar bisa lolos ke Olimpiade Tokyo 2021 mendatang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here