Kisah Haru Perjuangan Alim, Peraih Emas Bulutangkis di Asian Para Games 2018

0
Sumber Gambar: Tribunnews.com

Prestasi apik berhasil ditorehkan oleh salah satu atlet bulutangkis difabel wanita Indonesia, Khalimatus Sadiyah di ajang Asian Para Games 2018. Dimana wanita berusia 19 tahun tersebut sukses menyumbangkan medali emas bagi Indonesia di ajang empat tahunan itu.

Namun siapa sangka, dibalik kesuksesannya itu, ada cerita haru yang mengiringi perjalanan karir wanita asal Mojokerto, Jawa Timur itu. Berdasarkan penuturan sang ibunda Maslukah seperti yang dilansir dari Tribunnews.com Khalimatus Sadiyah sejak kecil memang tumbuh di keluarga yang sederhana. Bahkan guna menyambung hidup sehari-hari, mengandalkan uang hasil jualan makanan dan minuman yang lokasinya tak jauh dari kediamannya di Dusun Kecubuk, Desa Banjartanggul, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto.

Menurut wanita berusia 53 tahun tersebut, dirinya selalu mendukung kegiatan Alim (sapaan akrab Khalimatus Sadiyah) khususnya dalam menekuni olahraga bulu tangkis. Bahkan saat Khalimatus berkeinginan menjadi seorang atlet bulutangkis, segala upaya pun Maslukah lakukan khususnya membelikan Alim sepatu dan raket serta memasukkannya dalam pendidikan privat bulu tangkis di PB Bendo Sport.

Bahkan, kualitasnya jauh dari raket yang digunakan atlet lain di PB Bendo Sport. Meski begitu menurut Maslukah, Alim tetap bersemangat menjalani latihan tanpa berkecil hati.

“Saya membelikan raket Alim yang harganya Rp 150.000 dan sepatu Rp 90.000. Namun, Alim tetap percaya diri berlatih dan tak berkecil hati,” katanya, seperti dilansir dari Tribunnews.com

Yang lebih mengharukan lagi, uang sebesar Rp 240.000 itu dikumpulkan oleh Maslukah selama 2 bulan dari hasil berjualan. Meski di hari Sabtu dan Minggu ia rela tidak libur demi memenuhi kebutuhan anak bungsunya dalam bermain bulu tangkis. Tak hanya itu, Maslukah juga mengupayakan menyisihkan uang untuk biaya privat Alim.

“Tiap hari saya jualan. saya tidak pernah libur. sampai sekarang pun tidak pernah libur demi sang buah hati. Saya ini tulang punggung keluarga. Karena saya sudah pisah dengan suami ketika Alim berusia 2 tahun,” terangnya.

“Saya ingin melihat anak saya sukses. Meskipun tidak punya, nabung sedikit-sedikit untuk membayar iuran PB Bendo Sport. Bayarnya Rp 100.000 per bulan. Untuk Les privat bulu tangkis bayar Rp 15.000 dua hari sekali,” tambahnya.

Dan kini semua cerita haru itupun telah berbuah manis. Kehidupan Alim dan sekeluarga berubah. Berkat kerja keras dan dorongan motivasi dari keluarga yang tak ada henti-hentinya, Alim sering menjadi juara ketika tampil dan mengikuti sejumlah ajang bulu tangkis.

Dan kini walau Alim berhasil meraih medali emas dan perunggu diajang Asian Para Games 2018, tak merubah sedikitpun gaya hidupnya keluarga kecilnya, mereka tetap sederhana. Bahkan sekarang dia sudah bisa memberi sebagian rezekinya dari hasil memenangkan lomba untuk ibundanya.
“Insyaallah akan memberangkatkan umrah ibu. Saya juga terus berdoa agar target saya selanjutnya bisa tercapai. Target itu saya bisa membelikan ibu tanah untuk berjualan, karena selama ini ibu masih menyewa. Ibu menyewa selama 16 tahun,” timpal Alim.

Disisi lain, Alim juga berpesan kepada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, janganlah malu. Sebab, sebenarnya dibalik kekurangannya mereka memiliki kelebihan. Orang tua harus pandai melihat bakat anaknya.

“sekarang kebanyakan orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus malu. Bahkan sampai dikurung di dalam rumah. Jangan malah dikurung bebaskan dan dukung bakat anak tersebut. Tidak perlu malu,” tegasnya.

Sementara itu pasca meraih medali emas dan perunggu diajang Asian Para Games 2018, Alim memiliki target lain yakni masuk di Olimpiade Para Games. Saat ini dia masih mengumpulkan poin kemenangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here