Kerja Keras Greysia Polii Wujudkan Prestasi di Olimpiade Tokyo

0
Sumber Gambar: PBSI/inews

Penundaan Olimpiade 2020 Tokyo ke tahun 2021 memberikan banyak dampak kepada Tim Indonesia untuk cabor bulutangkis di sektor ganda putri. Sekarang, posisi yang paling aman (serta bisa jadi satu – satunya yang akan meraih tiket Olimpiade) adalah pasangan Greysia Polii/ Apriyani Rahayu.

Saat ini pasangan Greysia/ Apriyani berada di peringkat ke-8 dunia dan posisi ketujuh pada klasemen kualifikasi Olimpiade.

Bagi Apriyani yang usianya masih 22 tahun, mundurnya jadwal pesta olahraga terbesar di muka bumi tersebut dinilai memberikan dampak positif. Sekarang Apriyani memiliki peluang yang lebih besar untuk meningkatkan kemampuannya. Seperti memperbaiki teknik dan juga mental tanding. Apalagi, tahun 2021 adalah Olimpiade pertama bagi Apriyani. Tapi untuk Greysia, penundaan tersebut justru punya efek kurang baik. Lantaran, ketika Juli 2021 Olimpiade dihelat, dia sudah berusia 34 tahun.

Menjaga kondisi fisik dan performa nya dalam setahun ke depan menjadi PR bagi pelatih ganda putri Eng Hian. Tugas Eng bukan cuma urusan fisik.

’’Juga performa dia supaya tetap bagus sampai Olimpiade,’’ ucap Eng dalam keterangan pers PP PBSI kemarin.

Sebelumnya, seperti juga di nomor lain, Greysia/Apriyani juga menjalani program persiapan Olimpiade Tokyo. Tapi, karena event nya ditunda, mau tidak mau tim pelatih kini merubah program.

Saat ini fokus Eng adalah menjaga kondisi fisik, serta memulihkan cedera. Intensitas latihan juga mulai diatur. Jika sebelumnya latihan digelar enam sampai delapan jam sehari, kini tinggal dua hingga tiga jam.

’’Nanti di awal Juli baru masuk ke sesi penguatan otot-otot pendukung supaya tidak terjadi cedera lagi,’’ jelas pelatih yang akrab disapa Didi itu.

Didi memang kini dituntut memutar otak,dan bekerja keras, jika memang menginginkan anak asuhnya bisa meraih prestasi di ajang empat tahunan tersebut. Karena, persaingan di sektor ganda memang sangat ketat. Greysia/ Apriyani selama ini juga seringkali menemui jalan terjal, ketika bertanding melawan pasangan – pasangan asal Jepang. Seperti Yuki Fukushima/ Sayaka Hirota, Mayu Matsumoto/ Wakana Nagahara, serta Misaki Matsumoto. Sayaka Takahashi.

Bahkan, kini juga muncul peta persaingan baru dari Korea Selatan, melalui pasangan Kim So-yeong/ Kong Hee-yong, Chang Ye-na/ Kim Hye-rin dan Lee Sho-hee/Shin Seung-chan.

Belum juga para pesaing lama, seperti Chen Qing Chen/ Jia Yifan yang juga tampak semakin kuat dan kompak.

Demi menjaga kondisi Greysia tetap bisa maksimal hingga setahun ke depan jelas bukan hal yang mudah. Didi yang pernah meraih medali perunggu ganda putra di Olimpiade Athena 2004 berpasangan dengan Flandy Limpele ini, menjelaskan, dirinya sudah mempersiapkan program tersendiri.

Bersama tim strength and conditioning, ahli nutrisi dan dokter PBSI, Didi memberikan pelatih khusus. Sekarang Greysia dituntut untuk bisa melahap menu latihan di pusat kebugaran. Sejumlah latihan harus dijalani olehnya, seperti pull-up. Karena memiliki banyak manfaat. Salah satunya adalah, menguatkan otot punggung.

Greysia mengakui bahwa berprestasi di Olimpiade masih menjadi tujuan utamanya. ’’Bukan sekadar ikut ya, tapi bener-bener untuk dapat medali,’’ tuturnya.

Medali Olimpiade bakal jadi penutup karir yang indah bagi mantan pasangan Nitya Krishinda Maheswari itu. Apalagi, dia punya memori buruk di Olimpiade. Pada edisi 2012 di London, bersama Meiliana Jauhari, Greysia didiskualifikasi karena tindakan tidak sportif. Lalu, pada 2016 di Rio, dia dan Nitya terhenti di delapan besar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here