Jelang Kejuaraan Dunia, Lifter Nasional Dihadang Masalah Recovery

0
ANTARA FOTO/INASGOC/Dhemas Reviyanto/YU

Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PB PABBSI), memastikan akan mengirimkan 10 lifter untuk Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2018 yang akan dihelat di Ashgabat, Turkmenistan, 1-10 November nanti. Tim telah berangkat pada Sabtu (27/10) dan harus transit selama 18 jam sebelum tiba di sana.

Dilansir dari Indopos, Manajer Angkat Besi Indonesia untuk Kejuaraan Dunia, Sonny Kasiran, mengaku khawatir dengan kebugaran atlet yang akan bertanding. Selepas Asian Games 2018, beberapa lifter masih harus turun di Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jawa Barat.

Ditambah lagi, ada perubahan kelas serta sistem penilaian yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Jika biasanya penentuan tiket Olimpiade berdasarkan akumulasi peringkat lifter setiap negara, kali ini acuannya rangking individu lifter.

“Jadi atlet harus benar-benar menjaga kondisi dan performa selama kualifikasi. Mereka tidak boleh kendur. Saya percaya tenaga anak-anak masih ada setelah Asian Games. Soal kelas baru, semua negara pasti mengalami kesulitan, tapi bagi lifter Indonesia tidak berbeda jauh,” ungkapnya.

Kejuaraan Dunia 2018 ini memang menjadi salah satu kualifikasi menuju Olimpiade Tokyo 2020. Oleh karenanya, Sonny telah menyiapkan psikolog, masseur, dan terapis untuk memulihkan mental dan fisik para lifter, agar Eko Yuli Irawan dan kawan-kawan bisa tampil maksimal di Ashgabat.

Selain itu, Sonny coba mengantisipasi pola komunikasi antara pelatih dan lifter agar tidak terjadi lagi kesalahan fatal yang membuat Indonesia membuang percuma medali di Asian Games lalu. Lifter Nasional, Triyatno, harus mengubur mimpi menyumbang medali emas di kelas 69 kg putra karena kesalahan persepsi yang diterima pelatihnya saat itu, Dirdja Wihardja.

Tri, sapaan akrabnya, melewatkan kesempatan pertama clean & jerk karena ada perbedaan hitungan dengan sang pelatih. Kebetulan, Dirdja tengah berada di toilet dan tidak ada yang mendampingi Tri di belakang panggung.

“Kami pasti mengantisipasi kejadian seperti itu. Saya akan ikut mengontrol atlet dan pelatih saat perlombaan. Satu atlet itu mendapat tiga pendamping. Sementara dua lifter didampingi empat orang, saya akan masuk kalau memang dibutuhkan,” ucap Sonny.

Sementara di kesempatan terpisah, Tri mengaku terus berupaya membangun kepercayaan mentalnya atas kegagalannya di Asian Games. Ia berusaha membayar kesedihan tersebut ke beban angkatannya.

“Harapannya hal seperti di Asian Games tidak terulang. Itu merugikan atlet. Sekarang sudah biasa saja. Namun, kalau keingat suka sedih. Saya juga berusaha mengatur ulang pikiran supaya percaya dengan pelatih,” kata Tri.

Peraih medali perak Olimpiade 2012 London ini rencananya bakal naik kelas di Kejuaraan Dunia nanti. Dirinya akan turun di kelas 73 kg. “Mungkin masih ada sisa-sisa (tenaga) Asian Games. Semoga tahun ini bisa kena angkatannya,” tambah Tri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here