Hendrawan: Tim Bulutangkis Indonesia Harus Teruskan Tradisi Emas Olimpiade

0
Sumber Gambar: Detik Sport

Salah satu legenda hidup bulutangkis Tim Indonesia, Hendrawan berpesan, bahwa Indonesia selama ini memiliki standar level tinggi dalam target di ajang Olimpiade yang dalam waktu dekat akan dihelat di Tokyo Jepang.

Setelah Susi Susanti yang berhasil mempersembahkan medali emas pertama bagi bulutangkis Indonesia pada 1992 lalu, PBSI selaku induk organisasi bulutangkis memang mematok standar tinggi.

Setiap kali pesta olahraga terbesar di dunia tersebut digelar, Tim Indonesia untuk bulutangkis, memang tidak lepas dari target  medali emas. Jika tidak berhasil, maka apapun hasil yang diraih pebulutangkis tetap dianggap gagal.

Pendapat Hendrawan tersebut, berdasarkan, bagaimana eks tunggal putra andalan Indonesia yang kini berusia 47 tahun tersebut, sudah merasakan sendiri kekecewaan, lantaran gagal meneruskan tradisi emas tersbeut pada Olimpiade 2000 Sydney.

Walaupun, pasangan ganda putra Tony Gunawan/ Candra Wijaya, saat itu berhasil menjadi yang terbaik, usai menumbangkan wakil Korea Selatan, Lee Dong-soo/Yoo Yong-sung, dengan skor 15-1-, 9-15, 15-7. Namun secara pribadi Hendrawan tetap merasakan kekecewaan yang mendalam. Seusai di babak final, dia kalah dari pebulutangkis China Ji Xinpeng dengan skor 4-15, 13-15.

“Di Indonesia, medali perak, perunggu itu artinya gagal, karena tradisi kita emas olimpiade. Saya sendiri memang merasa gagal,” ujar Hendrawan mengenang perjuangannya di Olimpiade 2000, seperti dikutip dari Suara.com.

Medali perak yang diperoleh sendiri, saat itu menurut Hendrawan tidak membuatnya bahagia. Lantaran dalam sejarah Olimpiade, hanya bulutangkis yang punya tradisi emas, dengan total perolehan tujuh medali.

“Waktu cerita dengan teman di cabor lain, dia bilang saya tidak boleh berpikir begitu, karena kita adalah olympian, masuk Olimpiade saja tidak gampang, apalagi dapat medali,” tutur mantan pemain kelahiran Malang tersebut.

“Tapi di bulu tangkis kan tidak begitu, kami ditarget emas. Contohnya Tontowi (Ahmad)/Liliyana (Natsir), kalau waktu itu tidak dapat emas, pasti dibilang gagal juga. Karena target dan tradisinya sudah emas,” lanjutnya.

Seusai era Hendrawan, Taufik Hidayat yang tampil pada Olimpiade 2004 Athena, berhasil meneruskan tradisi emas tunggal putra.

Pada partai puncak, Taufik keluar sebagai yang terbaik, seusai mengalahkan pebulutangkis Shon Seung-mo (Korsel) dengan skor 15-8, 15-7.

Namun setelah 2004, sektor tunggal putra Indonesia seakan vakum, karena sudah tidak lagi pernah menunjukkan performa puncak di arena Olimpiade.

Wakil-wakil tunggal putra Indonesia dan sektor lainnya kini punya kesempatan untuk kembali meneruskan “tradisi emas Olimpiade” yang terakhir kali dilakukan pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir pada 2016 silam.

Sehingga, besar harapan bahwa Tim Indonesia untuk bulutangkis, khususnya dari tunggal putra, akan bisa menunjukkan taringnya kembali di pentas Olimpiade Tokyo 2020, dan kembali meneruskan tradisi emas Tanah Air.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here