Dari Sepakbola, Atlet Paralympic Ini Justru Jadi Andalan di Balap Sepeda

0
Sumber: Kumparan.com

Cerita menarik datang dari salah satu atlet Paralympic asal Indonesia, Tryagus Arief Rachman yang kini menjadi atlet paracycling Indonesia. Siapa sangka, sebelum tergabung sebagai atlet balap sepeda Indonesia, ternyata ia lebih dulu tergabung di Timnas sepakbola Indonesia kala mengawali pelatnas bersama National Paralympic Committee (NPC) Indonesia.

Berawal dari tidak adanya nomor sepak bola dalam dalam turnamen level Asia, Agus pun akhirnya memantapkan diri untuk seleksi sebagai atlet paracycling. Tentu bukan perkara muda bagi Agus untuk mencoba bidang olahraga yang baru baginya, jika tidak ada dorongan dari general manajer paracycling, pelatih Fadillah Umar. Sebagai informasi, Agus membuka jalan ke pelatnas sepakbola disabilitas lewat ajakan pelatih Fadillah Umar. Itu sekitar enam tahun lalu.

“Dulu saya masuknya di sepakbola. Nah, di Asia tak ada sepakbola makanya saya diminta coba sepeda. Saat itu, saya bilang bismilah, coba saja. Alhamdullilah abis seleknas satu bulan dapat panggilan masuk. Pak Umar itu juga sebagai general manajer paracycling,” kata Agus, dilansir dari Detik.com

Lambat laun, Agus pun merasa nyaman tergabung sebagai atlet paracycling. Tak hanya nyaman, Agus juga merasakan dampak positif lain setelah ia menjadi atlet sepeda balap salah satunya banyak bertambah teman.

“Kalau bola geraknya semua badan, di sepeda yang terpenting gerak kaki. Kalau di sepeda goyang badan itu pengaruh banget. Jadi badan harus tenang, kaki gerak. Kalau itu bisa maka sepeda bisa anteng begitu,” tutur Agus.

“Kalau lebih enak mana, saya sih lebih senang bersepeda karena tidak bosan, tidak melihat itu-itu saja, bisa jalan kemana-mana bersama teman-teman di Solo, komunitasnya banyak, ramai,” dia menegaskan.

Agus merupakan pebalap sepeda tunadaksa. Tangan kanan pemuda kelahirab Jepara, 3 Agustus 1990 itu, layu. Saat memegang setang, dia perlu alat bantu. SedangkanSepakbola sudah dikenal Agus sejak masih anak-anak. Dia bahkan menjadi bagian tim sepakbola sekolah SMA, juga bermain antarkampung.

“Waktu ikut tim normal, ya sempat dipandang sebelah mata, tapi tidak apa-apa,” ujar dia.
Sebelum beralih sebagai atlet sepeda, Agus sejatinya sudah menorehkan prestasi apik bersama tim sepak bola disabilitas yang tergabung di NPC Indonesia yakni juara ASEAN Para Games 2017 Kuala Lumpur.

“Sama, sebelumnya, saya ikut Peparnas 2016 Jawa Barat dapat medali emas,” kata Agus.
Sejatinya dia mengaku nyaman bermain sepak bola. Akan tetapi ia menilai dalam olahraga difabel setiap atelt harus bisa memanfaatkan peluang yang membuatnya bisa menyalurkan prestasi.

“Sayang sih. Cuma bagaimana saya merasa bergabung di olahraga difabel harus bisa multitalent. Berpeluang di mana, ambil. Tapi, ternyata balap sepeda juga menyenangkan,” kata dia.

Agus sendiri sebelumnya tergabung dalam atlet paracycling Indonesia diajang Asian Para Games 2018. Sayang Agus belum bisa menyumbangkan medali bagi Tanah Air.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here