Dampak Nyata Asian Games Terhadap Perekonomian Tanah Air

0

Asian Games 2018 yang berlangsung di Jakarta – Palembang tidak hanya berdampak positif pada perkembangan olahraga di Indonesia, tapi juga pada sektor perokonomian di Tanah Air. Berdasarkan data yang dirilis Bank Indonesia (BI) secara tahunan (year-on-year/YoY) pada Agustus 2018, indek penjualan Riil (IPR) pada sector penjualan ritel tumbuh sebesar 6,1 %.

Capaian itu lebih cepat ketimbang bulan sebelumnya sebesar 2,9% YoY. Catatan bulan Agustus 2018 juga mampu jauh mengungguli pertumbuhan penjualan ritel di Agustus 2018 sebesar 2,2% YoY. Tentu naiknya nilai indek penjualan Riil itu mampu mengungguli perkiraan BI. Dalam laporan bulan lalu, bank sentral RI memperkirakan penjualan ritel menurun ke angka 2,8% YoY.

“Peningkatan penjualan eceran antara lain dipengaruhi oleh banyaknya program diskon dan pelaksanaan kegiatan besar pada bulan Agustus 2018, antara lain Asian Games dan Hari Kemerdekaan Indonesia,” tulis BI, dilansir dari CNBC Indonesia.

Sebagai informasi, BI mencatat bahwa peningkatan kinerja penjualan ritel pada Agustus bersumber antara lain dari komoditas sandang yang tercatat tumbuh 20,4% YoY, lebih tinggi dari kenaikan 13% YoY pada Juli 2018.

Selain itu, kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya juga tumbuh sebesar 11,8% YoY pada Agustus, setelah meningkat “hanya” sebesar 5,3% YoY pada bulan sebelumnya. Adapun kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor juga mampu tumbuh kuat sebesar 12,2% YoY di bulan Agustus, meski agak melambat dari kenaikan 15,4% YoY pada bulan sebelumnya.

“Pertumbuhan penjualan eceran yang stabil pada Agustus didorong oleh kinerja penjualan pada kelompok sandang dan kelompok komoditas bahan bakar kendaraan bermotor”, tulis BI.

Namun pada September 2018, BI memperkirakan kelompok komoditas sandang tumbuh 28,1% YoY, meningkat dibandingkan 20,4% YoY pada Agustus 2018. Selanjutnya, penjualan kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diestimasikan meningkat 19,5% YoY, juga lebih baik dari 12,2% YoY di Agustus 2018.

Di sisi lain, perlambatan di bulan September diperkirakan didorong oleh konstraksi penjualan kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi sebesar 22% YoY, lebih parah daripada minus 13,2% YoY di Agustus. Tidak hanya itu, pertumbuhan penjualan kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau juga akan melambat ke 6,5% YoY, dari bulan Agustus 8,1% YoY.

Berdasarkan survey yang dilakukan BI kepada sejumlah responden, prakiraan penurunan penjualan antara lain disebabkan oleh menurunnya permintaan akibat pelemahan nilai tukar rupiah, khususnya untuk kelompok komoditas Peralatan Informasi dan Komunikasi dan Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here