Bertekad Lahirkan Pebasket Nasional, DBL Perketat Aturan

0
Sumber: indosport.com

Setiap peserta baik itu pemain maupun pihak sekolah yang mengikuti kompetisi basket antar Sekolah Menengah Atas (SMA), saat ini mereka tidak bisa dengan mudah mengikuti kejuaraan basket bergengsi  yang diadakan oleh Developmental Basketball League (DBL).
Pasalnya pihak pengelola saat ini sudah membuat aturan khusus bagi para peserta untuk bisa berpartisipasi aktif. Para peserta harus memiliki nilai rapor yang baik, artinya setiap siswa yang ingin ikut serta harus memiliki naik kelas. Bila tidak naik kelas maka hal tersebut akan menjadi penghalang bagi sang pemain untuk bisa mencicipi kompetisi bergengsi antar SMA ini.

Hal itu dikatakan oleh senior Manager Communication DBL Indonesia, Rocky Maghbal bertujuan untuk mendukung konsep student athletes yang sekaligus mempertegas bahwa itu bukanlah sekedar tema ataupun slogan yang digunakan DBL untuk menarik perhatian.

“Jadi mereka yang ikut bermain, persyaratannya memang wajib punya nilai yang tidak dibawah standar. Itu yang pertama, apalagi kalau dia (pemain) tidak sampai naik kelas. Itu gabisa ikut,” tutur Rocky dilansir dari indosport.com (21/10/18).

Sedangkan bagi para peserta yang memilih untuk pindah sekolah, Rocky mengatakan jika aturan itu juga berlaku untuk setiap peserta. Hal tersebut menurut Rocky termasuk salah satu penghalang bagi pelajar untuk bisa bermain di DBL.

Karena mekanismenya sangat ketat, Rocky mengatakan agar pihak sekolah bisa menyiapkan data data asli maupun salinannya sebagai bagian dari verifikasi pemain.
“Yang mungkin berniat jadi kutu loncat, tahun ini di sekolah ini, tahun berikutnya pindahan, itu juga tidak diperbolehkan. Mekanisme kontrol kita cukup ketat. Jadi mereka kita minta untuk menyiapkan data-data asli, maupun copy-nya, itu kita verifikasi,” tambah Rocky.

Dan bila terjadi kecurangan, pihak DBL tak segan memberikan sanksi-sanksi yang sekiranya cukup menyentil para pemain ataupun pihak sekolah. Larangan bermain selama bertahun-tahun untuk pemain atau sekolah sudah disiapkan DBL.

“Dan, apabila terjadi kecurangan, sanksi kita cukup tegas juga. Pertama bukan hanya si pelaku, anak atau pelatih misalkan, tapi sekolah tersebut bisa kita banned (larang) dari keikusertaan di DBL. Jadi bisa tiga tahun, lima tahun gak boleh ikut,” tutup Rocky.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here