Atlet Wushu Indonesia Ukir Prestasi Di Festival Shaolin China

0
Ghaniya (kanan) dan Emir bersama sang ibu, Ade Safitri, saat mengikuti kejuaraan wushu di China. (Dok. Pribadi Ade Safitri, )

Prestasi membanggakan kembali datang dari salah satu atlet wushu Indonesia diajang Festival Shaolin Wushu Internasional di Zhengzhou, China. Atlet tersebut yakni Ghaniya Zada Achari yang sukses meraih medali emas dalamkejuaraan yang berlangsung pada 19-23 oktober 2018 itu.

Dilansir dari CNNIndonesia, murid dari perguruan Inti Bayangan Jakarta itu keluar sebagai yang terbaik di nomor changquan atau tangan kosong di kelas A di bawah 12 tahun, Minggu (21/10).

Ibunda Ghayani, Ade Safitri mengatakan festival di Zhengzhou ini merupakan kejuaraan terbuka yang digelar Federasi Wushu Asia (WFA). Kendati demikian, banyak juga peserta dari luar Asia, seperti dari Amerika Serikat atau Ukraina.

Menariknya, kejuaraan itu sebagai salah satu jalan menuju kejuaraan wushu dunia. Dalam kejuaraan tersebut, Ghaniyajuga tampil di nomor golok, toya, taijiquan, dan kipas.

“Kejuaraan ini bisa menjadi tahapan untuk menuju kejuaraan dunia. Kejuaraan di Zhengzhou ini merupakan inisiatif dari setiap perguruan tetap tetap melalui rekomendasi PB Wushu Indonesia,” ucap Ade Safitri.

Di sisi lain tak hanya Ghaniya Zada Achari saja yang sukses menorehkan prestasi, sang adik Emir Fadilghani Achari juga menorehkan prestasi di ajang tersebut. Hanya saja, Emir harus puas dengan medali perunggu.

Perguruan Inti Bayangan menerjunkan 11 atletnya dalam kejuaraan ini, termasuk Ghaniya dan Emir. Sedangkan peserta lain dari Indonesia ada juga yang berasal dari Bali, Semarang, dan wilayah lainnya.

Berbicara mengenai pencapaian kedua anaknya di olahraga wushu, baik Ghaniya dan Emir sudah menekuni wushu sejak anak-anak. Ghaniya berlatih wushu sejak usia enam tahun, sedangkan Emir mulai lima tahun.

“Keduanya mengikuti kelas reguler di sasana wushu Inti Bayangan. Saat kenaikan tingkat, baik Ghaniya dan Emir selalu menjadi peringkat satu dan mendapat kesempatan mengikuti penjurusan tim inti untuk menjadi atlet wushu,” Ade menuturkan.

Sementara itu, pemilik yayasan wushu Inti Bayangan, Ahmad Rifai mengatakan keikutsertaan Indonesia dalam kejuaraan dua tahunan itu merupakan bagian dari ajang promosi wushu kepada masyarakat Indonesia dan dunia.

“Indonesia telah mengikuti kompetisi wushu di Shaolin sejak tahun 2014, dan kompetisi ini merupakan satu salah agenda rutin dalam rangka pembinaan, serta pembibitan atlet-atlet wushu tradisional Indonesia, guna mencetak atlet-atlet wushu tradisional yang mempunyai kualitas prestasi baik tingkat nasional maupun internasional, sesuai dengan program kerja PBWI,” jelasnya.

Wushu sendiri merupakan cabang olahraga yang juga turut menyumbangkan medali emas di ajang Asian Games 2018 lalu. Tentu dengan semakin banyaknya torehan prestasi, membuat olahraga bela diri ini kian digemari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here