Pengorbanan untuk menjadi yang terbaik

    0

    Sampai kemarin perolehan medali Indonesia adalah 30 emas, 23 perak & 37 perunggu. Semua dipersembahkan oleh atlet-atlet Indonesia setelah berjuang dengan keringat dan air mata. Banyak sekali yang harus dikorbankan untuk menjadi yang terbaik dan semua dilakukan demi membela nama bangsa dan negara karena ini adalah event terbesar kedua didunia setelagh Olympiade.

    Kita ambil contoh sang peraih medali emas pertama Indonesia Defia Rosmaniar, ketika sedang dalam masa persiapan di Korsel pada bulan April 2018, sang ayahanda wafat. Bahkan dia sendiri tidak bisa menyaksikan langsung pemakaman sang ayah, hanya bisa melalui videocall. Lalu ada juga Jafro Megawanto yang sebelum menjadi atlet paralayang, dia adalah seorang paraboy yang bertugas melihat parasut para atlet sebelum akhirnya ikut berlatih & menjadi atlet bahkan mempersembahkan medali emas.

    Lain lagi kisah atlet angkat besi Eko Yuli Irawan yang dulu pernah menjadi penggembala kambing, disaat sedang bertanding istrinya sedang hamil besar dan malah sempat menonton ia bertanding. Sedangkan atlet kembar sepak takraw, Lena & Leni bahkan harus rela menjadi pemulung, mengais barang-barang bekas bahkan pernah disuruh menjadi TKW karena kesulitan ekonomi sebelum akhirnya menjadi atlet takraw.

    Finalis ganda putera Fajar Alfian harus mengorbakan sekolahnya dan jauh dari orang tua, dalam seminggu hanya masuk 3x sehingga dunia pendidikannya terbengkalai. Itu semua dilakukan demi latihan yang giat agar bisa bersaing dengan atlet dari negara lain. Kisah lain muncu dari atlet senam Yudha Tri Aditya yang harus resign dari pekerjaannya karena tidak diberikan izin oleh atasannya untuk tampil di Asian Games.

    Yang kita tahu juga atlet lari kita Mohammad Zohri yang harus meninggalkan keluarga di Lombok yang sedang tertimpa bencana gempa bumi. Begitu juga atlet pencak silat Amri Rusdana yang ketika bertanding di semifinal mendengar berita kelahiran sang buah hati sehingga sedikit tidak fokus. Walaupun hanya mendapat perunggu, ia  menyelipkan kata ‘perunggu’ didalam nama anaknya yang ia beri nama Aisyah Bronze Al Chasanah.

    Itulah beberapa kisah  haru pengorbanan atlet-atlet demi memberikan yang terbaik bagi bangsa negara, demi memberikan medali-medali bagi Indonesia. Tidak dipungkiri hasil tidak akan mengkhianati proses, semoga calon-calon atlet masa depabn bangsa ini bisa mendapatkan inspirasi dan semangat dari kisah-kisah atlet yang sudah sukses mempersembahkan medali bagi Indonesia.