Mereka Redam Ego Demi Prestasi

0
[:In]ANTARA FOTO/INASGOC/Nafielah/Mahmudah[:]

Di saat yang lain mengumbar kesenangan demi memanjakan diri, masih ada segelintir manusia di republik ini yang berani meredam ego demi mengharumkan nama bangsa di perhelatan olahraga paling akbar se Asia, Asian Games. Pengorbanan dan kerja keras yang telah mereka lakoni selama ini pun terbayar tuntas dengan raihan medali. Berikut beberapa atlet yang rela mengorbankan ego dan kepentingan pribadi untuk torehan terbaik di Asian Games yang kami sarikan dari berbagai sumber.

1. Fajar Alfian (Bulutangkis)
Berpasangan dengan Muhammad Rian Ardianto, pria kelahiran Bandung 7 Maret 1995 ini memang kalah dari pasangan ganda putra Kevin Sanjaya / Marcus Gideon dan hanya menyabet medali perak. Namun dibalik selebrasinya, ada konsekwensi yang harus dibayar dengan cukup mahal. Seperti diungkapkan oleh Fajar yang sekarang berada di peringkat 9 dunia kategori men’s doubles ini saat diwawancara oleh Najwa Sihab di acara Mata Najwa.

“Kalau atlet bulutangkis, dulu sebelum masuk Pelatnas Cipayung saya dulu sekolah terbengkalai. Kadang sekolah cuma seminggu tiga kali, sisanya latihan. Karena kalau nggak latihan diforsir kayak gitu, kita ketinggalan dari negara lain. Jadi pengorbanan terbesar itu sekolah. Yang kedua jauh dari orangtua dari kecil,” ujarnya.

2. Abu Dzar Yulianto (Panjat Tebing)
Segudang prestasi yang ditorehkan oleh Abu Dzar Yulianto tidak diraih dengan mudah. Butuh banyak perjuangan agar bisa menjadi yang terbaik. Termasuk saat menggondol medali emas di cabang olahraga panjat tebing nomor speed relay putra. Bergabung bersama Muhammad Hinayah dan Rindi Supriyanto di Tim Indonesia 2, Abu mengaku terpaksa berkorban.

“Saya meninggalkan keluarga selama 1,5 tahun demi memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara. Saya sering meninggalkan anak dan istri, jarang pulang karena kerap ke luar negeri,” tuturnya pada VIVAnews.com.

3. Amri Rusdana (Pencak Silat)
Walau harus mengakui keunggulan pesilat Malaysia, Mohd Fauzi Khalid di kelas F putra 70 kg-75 kg, dan hanya diganjar medali perunggu, namun kebahagiaan sekaligus kesedihan Amri Rusdana sangat meluap. Pasalnya berbarengan dengan pertandingannya yang dihelat di Padepokan Pencak Silat di TMII, sang istri melahirkan buah hatinya. Pengorbanan mahasiswa Teknik Informatika Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya tersebut meninggalkan istrinya diperlihatkan lewat postingannya di Instagram. Kendati demikian, Amri membaktikan medali raihannya tersebut dengan menyisipkannya dalam nama sang putri, Aisyah Bronze Al Chasanah. Selamat!

4. Tanzil Hadid (Dayung)
Sama seperti Amri Rusdana, pedayung asal Kampar, Riau, Tanzil Hadid juga harus absen dari proses kelahiran buah hatinya. Pasalnya, saat anaknya lahir di Mei silam, Tanzil sedang melakoni Pelatnas Dayung di Belanda. Lepas dari situ, dirinya langsung melakukan persiapan tanding di Asian Games. Pengorbanannya tidak sia-sia lantaran Tim Dayung Indonesia berhasil mempersembahkan medali emas dari nomor Lm8+. Apa yang dilakukan Tanzil dihargai banyak orang, termasuk RI 1. Bahkan Presiden Joko Widodo langsung menuliskan apresiasinya di akun Instagramnya.

“Tanzil Hadid pamit dari keluarga di Kampar, Riau pada Mei lalu, untuk berlatih menghadapi Asian Games 2018 di Pelatnas dayung. Istrinya saat itu tengah hamil tua, mengandung anak pertamanya.
Ketika istrinya melahirkan, 19 Juni lalu, Tanzil tak pulang. Ia fokus berlatih. Alhamdulillah, pengorbanan Tanzil Hadid tak sia-sia. Bersama tujuh rekannya, Tanzil Hadid mempersembahkan medali emas Asian Games 2018 untuk Indonesia di nomor Men’s Lightweight Eight mengalahkan Uzbekistan dan Hong Kong pada lomba di Jakabaring Rowing Lake, Palembang, kemarin.
Dengan medali emas di tangan, Tanzil kini berencana untuk pulang ke Kampar menjumpai istri dan melihat sang putra untuk pertama kalinya. Dari venue dayung ini Indonesia juga meraih dua medali perak dan dua perunggu. Sepekan Asian Games 2018, Indonesia telah mengumpulkan sembilan medali emas. Tetap semangat!”

5. Defia Rosmaniar (Taekwondo)
Ada kisah sedih dibalik medali emas pertama untuk tim Indonesia yang disumbangkan oleh Defia Rosmaniar dari cabang olahraga taekwondo nomor Poomsae. Sebelum bertanding di Asian Games, gadis asal Bogor ini harus menjalani pelatihan di Korea Selatan selama 5 bulan (Maret – Agustus). Satu minggu setelah keberangkatannya, atlet yang menaklukkan Marjan Salahsahouri (Iran) di babak final tersebut mendapatkan kabar jika sang ayah wafat.

Sayangnya, proses kepulangannya ke Indonesia tidak semulus yang diharapkan.

“Waktunya memang nggak pas. Karena perjalanan sangat jauh dari Korea ke Indonesia, jadinya ayah dimakamkan aku nggak bisa melihat. Jadi aku cuma datang ke pemakaman, aku berdoa di situ, dan berharap aku bisa buat ayah senang,” ujar Defia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here