Dukungan Ayah jadi Kunci Keberhasilan Puji Lestari

0
ANTARA FOTO/INASGOC/Hendra Nurdiyansyah

Siapa yang tak kenal Puji Lestari, atlet panjat tebing yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di ajang olahraga terbesar se-Asia, Asian Games 2018. Nama Puji Lestari mulai sering dibicarakan banyak orang, termasuk di tempat tinggal atlet kelahiran 15 Juni 1990 ini.

Puji yang tinggal di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara ini sudah dianggap seperti pahlawan oleh warga Marunda. Bagi mereka, Puji merupakan sosok pahlawan yang berhasil merebut emas untuk Indonesia. Bahkan saat kepulangan Puji ke Jakarta, warga Marunda sudah bersiap untuk melakukan penyambutan Puji di kelurahan dan kemudian Puji akan diarak sampai ke rumahnya.

Walaupun Puji berhasil meraih penghargaan dari cabang olahraga panjat tebing yang telah membesarkan namanya itu, ternyata Puji tidak langsung jatuh cinta pada olahraga ekstrem ini. Saat ia masih duduk di bangku SMP, Puji gemar mengikuti olahraga sepak takraw. Tetapi saat memasuki bangku SMA, di sekolah Puji tidak ada ekstrakulikuler sepak takraw, akhirnya Puji beralih ke ekstrakulikuler pecinta alam.

“Saya awalnya dari sepak takraw terus berhubung di SMA saya sudah nggak ada ekstrakurikuler sepak takraw, saya beralih ke pecinta alam,” ujar Puji seperti dilansir Tribunjakarta.com.

Sejak mengikuti pecinta alam, Puji mulai mengenali dan jatuh cinta pada olahraga wall climbing. Namun karena tingginya risiko dari olahraga ini, keluarga Puji meminta dirinya untuk kembali menggeluti sepak takraw. Tetapi Puji tetap mengikuti kata hatinya dan memilih wall climbing, karena baginya olahraga ini sangat menantang adrenalin.

“Karena di wall climbing itu lebih menantang adrenalin, karena ketinggian itu ya, menurut saya olahraga ekstrim dan saya menyukai sesuatu yang menantang,” terang Puji.

Tak dipungkiri, Marimin sebagai ayah dari Puji sangat mengkhawatirkan anaknya itu ketika memilih olahraga panjat tebing. Tetapi, sebagai orangtua, Marimin hanya bisa memberikan dukungan semangat dan doa demi keselamatan anaknya.

“Khawatir iya tapi bagaimana melarangnya orang sudah suka banget. Saya cuman bisa memberi dukungan semangat dan doa saja,” ujar Marimin dilansir dari Tribunjakarta.com.

Dukungan semangat dan doa yang terus mengalir dari ayahanda Puji beserta keluarga akhirnya berbuah manis, Puji sanggup membanggakan orangtuanya karena prestasinya dibidang yang ia pilih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here